Senin, 11 Agustus 2014

uas histologi

SOAL dan JAWABAN UJIAN AKHIR SEMESTER
“HISTOLOGI”



Oleh :
GINANJAR AYU PRATIWI                       1210211014

PRODI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
2014
UJIAN AKHIR SEMESTER GENAP
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
Mata Kuliah            : HISTOLOGI                                   Prodi    : Pendidikan Biologi
Semester/Kelas       : IV/ a dan IVb                                  Dosen   : Suthon Taqdir Al., S.Pd
 


1.      a. Sebutkan dan jelaskan 3 jenis tulang rawan?
               b. Sebutkan fungsi tulang rawan!
               c. Sebutkan dan jelaskan 2 cara perkembangan tulang rawan!
2.      a. Jelaskan struktur dari tulang keras!
               b. Jelaskan bagaimana mekanisme tulang pengganti tulang rawan (endokondral)
3.      a. Sebutkan dan jelaskan macam-macam  sel darah?
               b. Ada berapa jenis sumsum tulang?sebutkan dan jelaskan!
               c. Jelaskan  kelainan-kelainan   pada darah?
4.      a. Jelaskan struktur dari jaringan otot!
               b. Sebutkan dan jelaskan macam-macam sel penyusun jaringan otot!
               c. Bagaimana mekanisme terjadinya pergerakan pada otot  pada sat kontraksi dan  relaksasi ,serta  bagaimana proses terjadinya kram pada otot!
5.      a. Jelaskan struktur dari jaringan  sel syaraf (neuron)
               b. Sebutkan dan jelaskan macam-macam sel syaraf (neuron)!
               c. Apa yang anda ketahui tentang neuro transmitter? Dan apa pernannya dalam persyarafan?

JAWABAN

*      1.a Terdapat tiga jenis tulang rawan di dalam tubuh: hialin, elastis, dan fibrokartilago (tulang rawan fibrosa). Penggolongan ini didasarkan pada jumlah dan jenis serat di dalam matriks.
Tulang rawan hialin adalah bentuk yang paling umum di dalam tubuh. Pada embrio, tulang rawan hialin berfungsi sebagai model kerangka bagi kebanyakan tulang yang terbentuk melalui osifikasi endokondral. Pada orang dewasa, sebagian besar tulang rawan hialinnya telah diganti dengan tulang, kecuali tulang rawan permukaan sendi, ujung iga, hidung, larings, dan trachea, serta bronkus.
Tulang rawan elastis serupa dengan tulang rawan hialin, kecuali lebih banyak serat elastin di dalam matrik. Tulang rawan elastis terdapat pada telinga luar (auricular) dinding tuba auditiva (eustachii), epiglotis dan larings.
Fibrokartilago ditandai berkas-berkas serat kolagen, padat, dan tidak teratur. Berbeda dengan jenis tulang rawan hialin, fibrokartilago terdiri atas lapisan matriks tulang rawan diselingi lapisan serat kolagen padat. Serat kolagen ini terorientasi kearah stres fungsi. Fibrokartilago terdapat pada discus intervertebralis, simfisis pubis, dan sendi tertentu.
Kebanyakan tulang rawan di dalam tubuh dikelilingi selapis jaringan ikat yang disebut perikondrium, kecuali tulang rawan hialin permukaan sendi. Karena selalu berhubungan dengan jaringan ikat padat, fibrokartilago juga tidak memiliki perikondrium.
1.       Tulang Rawan Hialin
Gambar Tulang Rawan Hialin Dewasa.
Pewarnaan: hematoksilin-eosin.
Perbesaran kuat.
http://khayasar.files.wordpress.com/2012/11/tulang-rawan-hialin.png?w=185&h=300
Keterangan:
1.Kondrosit
2.Lakuna
3.Inti kondrosit
4.Kapsul tulang rawan
5.Matriks territorial
6.Matriks interteritorial
Terdapat perikondrium, ciri khususnya ada kapsul tulang rawan
2.       Tulang Rawan Elastis
Gambar Tulang Rawan Elastis: Epiglotis.
Pewarnaan: hematoksilin-eosin.
Perbesaran kuat.
http://khayasar.files.wordpress.com/2012/11/tulang-rawan-elastis.png?w=300&h=264
Keterangan:
1.Matriks serat elastin
2.Kondrosit
3.Serat elastin
4.Perikondrium
5.Kondrosit kecil dan besar
6.Nukleus kondrosit
Cirinya yang khusus, adanya serat elastis
3.       Tulang Rawan Fibrosa
Gambar Tulang Rawan Fibrosa: Diskus Intervertebralis.
Pewarnaan: nematoksilin-eosin.
Pembesaran kuat.
http://khayasar.files.wordpress.com/2012/11/tulang-rawan-fibrosa.png?w=300&h=255
Keterangan:
1.Lakuna
2.Inti kondrosit
3.Deretan kondrosit
4.Kondrosit
5.Serat kolagen
6.Matriks
*      b.
  •  Tulang rawan memegang beberapa tulang bersama-sama, misalnya, tulang rusuk tulang rawan. Itu membuat daerah tahan goncangan.
  • Ini membantu dalam pembentukan tulang pada anak-anak tumbuh. Pada anak-anak muda, ujung tulang panjang lengan dan kaki yang terdiri dari tulang rawan yang secara bertahap berubah menjadi tulang dan tumbuh lagi.
  • Tulang rawan adalah satu-satunya jaringan yang tidak pernah berhenti tumbuh! Anda harus menyadari bahwa beberapa orang yang sangat tua memiliki telinga yang lebih besar dan lebih besar hidung-berakhir. Hal ini karena tulang rawan hadir di daerah tersebut.
  • Ia bekerja seperti sebuah bantal di sendi. Mencegah gesekan tulang terhadap satu sama lain adalah salah satu fungsi tulang rawan utama. Misalnya, tulang rawan di lutut dan siku bekerja seperti bantal dalam tulang dan membantu menghindari nyeri sendi.
  • tulang rawan Elastis adalah tulang rawan yang paling fleksibel karena mengandung serat elastin lagi. Keseimbangan sempurna struktur dan fleksibilitas yang disediakan oleh tulang rawan ini membantu menjaga struktur tubular terbuka. Hal ini hadir di telinga luar, laring dan tabung eustachius, misalnya.
  • Garis tulang rawan hialin tulang pada sendi, membantu mereka untuk mengartikulasikan dengan lancar. Hal ini terdiri dari serat kolagen sebagian besar tipe II. Spoiled tulang rawan hialin umumnya diganti dengan fibrocartilage, yang sayangnya tidak dapat menanggung beban karena kekakuan. RICE (rest, ice, compression dan elevasi) mendorong pemulihan sistem yang cepat, jika anda telah robek tulang rawan di lutut.
  • Fibrokartilago adalah jenis terkuat dan paling kaku tulang rawan, karena mengandung lebih banyak kolagen dibanding jenis lainnya. Kolagen dalam fibrokartilago lebih dari kolagen tipe I, yang lebih tangguh daripada tipe II. Fibrokartilago ditemukan dalam diskus intervertebralis. Ini membantu menghubungkan tendon dan ligamen pada tulang. Hal ini hadir di daerah stres-tinggi lain dan melindungi sendi dari guncangan.
*      c Tulang yang terbentuk pertama adalah tulang rawan (kartilago) yang berasal dari jaringan mesenkim (jaringan embrional).
Saat tulang rawan atau kartilago sudah terbentuk, didalam rongga kartilago akan terisi oleh osteoblas. Osteoblas sendiri adalah sel-sel tulang yang membentuk lapisan tulang baru selama tahap pembentukan dalam proses remodeling tulang. Sel-sel dari osteoblas terbentuk secara konsentris yaitu dari dalam keluar. Dan setiap sel melingkari pembuluh darah dan serabut saraf yang akan membentuk sistem Havers. Sehingga dalam proses ini, kondisi manusia pada saat itu benar-benar rawan, karena aktivitas yang dilakukan diluar bias mempengaruhi proses tersebut.
Substansi di sekitar tulang disebut matriks tulang, tersusun atas senyawa protein. Selanjutnya terjadi pengisian kapur dan fosfor sehingga matriks tulang menjadi keras. Pengerasan tulang disebut osifikasi. Osifikasi dibedakan menjadi 2 macam sebagai berikut:
  1. Osifikasi kondral yaitu pembentukan tulang dari tulang rawan. Terjadi pada tulang pipa dan tulang pendek.
  2. Osifikasi desmal yaitu pembentukan tulang dari membran jaringan mesenkim. Terjadi pada tulang pipih.
*      2a.Tulang Keras :Merupakan bagian utama pada kerangka dewasa. Susunanya terdiri dari sedikit sel-sel, dan matriknya diperkuat dengan zat kapur, sehingga kuat dan keras. Berdasarkan strukturnya, tulang keras dibedakan menjadi tulang kompak(padat) dan tulang spons. Sedangkan berdasarkan bentuknya dibedakan menjadi tulang pipih, tulang pendek, dan tulang panjang.
• Rongga di dalam tulang berisi sumsum tulang ada 2 macam yaitu sumsum kering dan sumsum merah.
• Pertumbuhan tulang terjadi pada tulang rawan embrional dan kemudian pada cakra epifise.
 
Gambar jaringan tulang keras

Jaringan Tulang KerasTerdiri atas sel-sel tulang atau osteon yang tersimpan dalam matriks.Matriksnya tersusun atas zat perekat kolagen dan endapan garam mineral terutama garam dapur atau kalsium dan fosfat sehingga bersifat keras. Pembentukan tulang keras berawal dari kartilago. Dimana proses pengerasan tulang disebut penulanganatau asifikasi. Dimana prosesnya adalah pada awalnya setelah tulang rawan terbentuk,bagian dalamnya terisi osteoblas. Osteoblas membentuk sel tulang dari dalam ke luar(konsentris) sehingga terbentuk system Havers. Di sekeliling sel-sel tulang terbentuk protein yang akan mengisi dan membentuk matriks tulang. Melalui aliran darah akanditambahkan kapur (Ca3CO3) dan fosafat (Ca3(PO4)2) sehingga matriks tulangmenjadi keras. Makin bertambah usia hewan atau manusia kadar zat perekatkolagen makin rendah sedangkan kadar zat kapurnya meningkat sehingga tulangsemakin keras dan kuat. Berdasarkan susunan matriksnya jaringan tulang daptdibedakan menjadi dua, yaitu :

a)    Jaringan tulang sponsJaringan ini tersusun atas matriks berongga dan tidak terdapat systemHavers tetapihanya tersusun atas trabekula.2)
b)    Jaringan tulang keras (kompak)Jaringan ini memiliki matriks yang rapat dan memiliki system Haversyang terdiri atas 4-20 lamela Pembentukan tulang keras berawal dari kartilago (berasal darimesenkim). Kartilago memiliki rongga yang akan terisi oleh OSTEOBLAS (sel-sel pembentuk tulang). Osteoblas membentuk osteosit (sel-sel tulang). Setiap satuan sel-sel tulang akan melingkari pembuluh darah dan serabut saraf membentuk SISTEM HAVERS. Matriks akan mengeluarkankapur  dan fosfor yang menyebabkan tulang menjadi keras.Proses pengerasan tulang disebut penulangan atau OSIFIKASI. Jenis osifikasi adalah DESMAL dan KONDRAL. Kondral meliputi PERIKONDRAL dan ENKONDRAL.
Tulang Keras atau Osteon terbagi menljadi
- Tulang panjang (tulang pipa)
- Tulang pipih
- Tulang pendek
- Tulang pneumatika
Tulang Pipa terbagi menjadi 3 bagian yaitu :
-    Bagian ujung yang disebut EPIFISE.
-    Bagian tengah yang disebut DIAFISE.
Di pusatnya terdapat rongga yang berisi sumsum tulang. Rongga terbentuk karena aktivitas OSTEOKLAS (perombak tulang).
-    Di antara epifise dan diafise terdapat CAKRAM EPIFISE (DISCUS EPIPHYSEALIS). Cakram ini kaya akan osteoblas dan menentukan pertumbuhan tinggi.
*      b. Proses pembentukan tulang yang terjadi dimana sel-sel mesenkim berdiferensiasi lebih dulu menjadi kartilago %jaringan rawan& lalu berubahmenjadi  jaringan tulang! misal proses pembentukan tulang panjang! ruastulang belakang! dan  pel"is. Proses osifikasi ini bertanggung jawab padapembentukkan sebagian besar tulang manusia. Pada proses ini sel-sel tulang osteoblast aktif membelah dan muncul dibagian tengah dari tulang rawanyang disebut center osifikasi. osteoblas selanjutnya berubah menjadi osteosit!sel-sel tulang dewasa ini tertanam dengan kuat pada matriks tulang.Pembentukan tulang rawan terjadi segera setelah terbentuk tulang rawan kartilago& mula-mula pembuluh darah menembus perichondrium di bagiantengah batang tulang rawan! merangsang sel-sel perichondrium berubahmenjadi osteoblas. osteoblas ini akan membentuk suatu lapisan tulangkompakta! perichondrium berubah menjadi periosteum. 'ersamaan denganproses ini pada bagian dalam tulang rawan di daerah diafisis yang disebut jugapusat osifikasi primer! sel-sel tulang rawan membesar kemudian  pecahsehingga terjadi kenaikan menjadi basa  akibatnya zat kapur didepositkan!dengan demikian terganggulah nutrisi semua sel-sel tulang rawan danmenyebabkan kematian pada sel-sel tulang rawan ini.kemudian akan terjadi degenerasi kemunduran bentuk dan fungsi& danpelarutan dari zat interseluler termasuk zat kapur  bersamaan dengan masuknya pembuluh darah ke daerah ini sehingga terbentuklah rongga untuksumsum tulang. Pada tahap selanjutnya  pembuluh darah akan memasuki daerah epiphise sehingga terjadi pusat osifikasi sekunder! terbentuklah tulangspongiosa. dengan demikian masih tersisa tulang rawan dikedua ujung epifiseyang berperan penting dalam pergerakan sendi dan satu tulang rawan di antaraepifise dan diafise yang disebut dengan cakram epifise.,elama pertumbuhan! sel-sel tulang rawan pada cakram epifise terus-menerus membelah kemudian hancur dan tulang rawan diganti dengan tulangdi daerah diafise! dengan demikian tebal cakram epifise tetap sedangkantulang akan tumbuh memanjang. Pada  pertumbuhan diameter lebar& tulang!tulang didaerah rongga sumsum dihancurkan oleh osteoklas sehingga ronggasumsum membesar! dan pada saat yang bersamaan osteoblas di  periosteum
*      3a.    Sel Darah Merah


Sel darah merah (SDM) atau eritrosit adalah sel darah yang terbanyak didalam darah. Karena sel ini mengandung senyawa yang berwarna, yaitu hemoglobin, maka dengan sendirinya darah berwarna merah.
Hemoglobin adalah suatu protein yang mengandung senyawa besi hemin. Hemoglobin mempunyai daya ikat terhadap oksigen dan karbondiogsida. Dalam menjalankan fungsinya membawa oksigen ke seluruh tubuh, hemoglobin di dalam SDM mengikat oksigen melalui suatu ikantan kimia khusus. Reaksi yang membantuk ikatan antara hemoglobin dan oksigen tersebut dapat dituliskan sebagai berikut :
                              Hb       +         O2              HbO2

Hemoglobin yang tidak atau belum mengikat oksigen disebut sebagai deoksihemoglobin atau deoksiHb dan umumnya ditulis Hb saja. Hemoglobin yang mengikat oksigen disebut oksihemoglobin atau HbO2. Seperti yang tampak pada persamaan reaksi tersebut, reaksi ini dapat berlangsung dalam 2 arah. Meskipun demikian, reaksi yang berlangsung dalam arah ke kanan, yang merupakan reaksi penggabungan atau asosiasi terjadi didalam alveolud paru-paru, tempat berlangsungnya pertukaran udara antara tubuh dengan lingkungan. Sebaliknya, reaksi yang merupakan suatu reaksi penguraian atau disosiasi, terutama terjadi di dalam berbagai jaringan. Dengan demikian, dapat juga dikatakan bahwa hemoglobin dalam SDM mengikat oksigen di paru-paru dan melepaskan di jaringan, untuk diserahkan dan digunakan oleh sel-sel.
Fungsi lain dari sel darah merah ialah mengikat dan mempermudah tranportasi gas CO2. Di dalam paru-paru terjadilah pertukaran gas dengan lingkungan : oksigen diambil dari lingkunagan dan CO dikeluarkan ke lingkungan. Hanya sebagian saja dari CO2 yang berikatan langsung dengan molekul Hb melalui ikaan karbamino, berupa HbCO2. Sebagian yang lebih besar dari CO ini malahan diangkut sebagai bentuk terlarut dalam plasma. Akan tetapi berbeda dengan oksigen, CO2 tersebut tidaklah larut secara fisik dalam bentuk senyawa tersebut, akan tetapi sebagai bikarbonat (HCO3),  yang pembentuknya sangat memerlukan sel darah merah. Di dalam sel darah merah terdapat enzim anhidrase karbonat yang mengkatalisis reaksi berikut :
CO2          + H2O                 H2CO3                              H+  +   HCO3-
                              Asam karbonat                        ion bikarbonat

Ciri-ciri sel darah merah, antara lain bentuknya melingkar, pipih, dan cakram bikonkaf, sel yang telah matang tidak mempunyai nucleus, berdiameter kurang dari 0,01 mm dan elastis.

2.    Sel Darah Putih
     
Sel darah putih atau leukosit adalah sel lain yang terdapat di dalam darah. Yang berperan dalam mempertahankan tubuh terhadap penyusupan benda asing yang selalu dipandang mempunyai kemungkinan untuk mendatangkan bahaya bagi kelangsungan hidup individu selain itu, sel darah putih berfungsi sebagai pengangkut zat lemak.
Sel darah putih mempunyai ciri-ciri, antara lain tidak berwarna, mempunyai nucleus, kehilangan Hb, bentuknya tidak beraturan, dapat bergerak, dan dapat berubah bentuk.
Sel darah putih dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu granulosit dan agranulosit. Sebenarnya kedua jenis sel darah putih ini jelas terlihat pada granulosit. Granula mengandung beragam enzim dan protein yang membantu sel darah putih dalam melindungi tubuh.
Granulosit mempunyai nucleus yang banyak dan bersifat fagosit. Macam-macam granulosit, antara lain :
a.    Neutrofil : 

Jenis sel darah putih terbanyak. Bentuk nukleusnya beragam, misalnya batang, bengkok, atau bercabang-cabang. Neutrofil menjadi sel darah putih yang pertama merespon adanya infeksi dan sel-sel tersebut menelan patogen selama fagositosis.
b.    Basofil    : 

Berbentuk U dan berbintik-bintik. Basofil melepaskan histamin pada saat terjadi reaksi alergi.
c.     Eosinofil  :

Berbintik-bintik kemerahan. Meningkat apabila terjadi infeksi atau reaksi alergi.
Agranulsit hanya mempunyai sebuah  nucleus dan tidak seluruhnya bersifat fagosit. Macam-macam agranulosit, antara lain :
a.    Monosit   :       
     
Jenis sel darah putih terbesar, bersifat fagosit, nukleusnya berbentuk seperti kacang, dan dapat bergerak cepat. Monosit yang berada pada suatu jaringan dapat berdiferensiasi menjadi makrofag yang berukuran lebih besar. Makrofag berfungsi untuk memfagosit patogen, sel using, dan puing-puing seluler dan dapat merangsang sel-sel darah putih yang lain untuk melindungi tubuh.
b.    Limfosit  : 

      Jenis sel darah putih yang tidak bersifat fagosit, selnya cenderung  berbentuk lingkaran, berinti tunggal, dan hanya memperhatikan sedikit pergerakan. Fungsi limfosit untuk imunitas (kekebalan) terhadap patogen dan toksin tertentu. Ada dua macam limfosit yaitu limfosit B dan limfosit T. Limfosit B melindungi kita dengan memproduksi antibody yang akan menghancurkan patogen, sedangkan limfosit T secara langsung menghancurkan sel-sel yang mengandung antigen.
  1. Keping Darah


Keeping darah disebut juga trombosit. Sebenarnay, trombosit tidak dapat dipandang sebagai sel utuh karena berasal dari sel raksasa yang berada di sumsung tulang, yang dinamakan megakariosit. Dalam pematangannya, megakariosit ini pecah menjadi 3000 sampai 4000 serpihan sel, yang dinamai sebagai trombosit atau keeping sel (platelet) tersebut. Trombosit mempunyai bentuk bicembung dengan garis 0,75-2,25 mm. Dengan sendirinya trombosit ini tidak mempunyai inti. Akan tetapi keeping sel ini masih dapat melakukan sintesis protein.
Selain itu, trombosit masih mempunyai mitokondria, butir glikogen yang mungkin berfungsib sebagai cadangan energy dan 2 jenis granula, yaitu granula- dan granula yang lebih padat. Granula- berisi enzim-enzim hidrolase asam yang mengigatkan kita kepada lisosom. Granula lebih padat antara lainberisi factor penggumpalan tertentu (factor V), factor pertumbuhan dan beberapa jenis glikoprotein, antara lain fibronektin.

Trombosit berfungsi penting dalam usaha tubuh untuk mempertahankan keutuhan jaringan bila terluka, sehingga tubuh tidak mengalami kehilangan darah dan terlindung dari penyusupan benda atau sel asing dan untuk melakukan agregasi.
*      b. Ada dua jenis sumsum tulang:
  • sumsum merah, dikenal juga sebagai jaringan myeloid. Sel darah merah, keping darah, dan sebagian besar sel darah putih dihasilkan dari sumsum merah.
  • sumsum kuning. Sumsum kuning menghasilkan sel darah putih dan warnanya ditimbulkan oleh sel-sel lemak yang banyak dikandungnya.
Kedua tipe sumsum tulang tersebut mengandung banyak pembuluh dan kapiler darah.
*      c. Pada sel darah merah

Thalassaemia
Adalah jenis penyakit keturunan akibat kelainan darah. Penyakit ini banyak terdapat di dunia dan tersebar khususnya orang yang berasal dari Laut Tengah, Timur Tengah, dan Asia, kelainan ini jarang ditemukan pada orang Eropa Utara. Pembawa sifat Thallasaemia adalah orang-orang yang sehat tetapi dapat meneruskan sifat penyakit ini pada keturunannya. Penderita Thallasaemia akan mengalami kekurangan darah karena sel darah merahnya mudah pecah dan sel-selnya tak cukup mengandung Haemoglobine. Pada orang normal, umur sel darah merah 120 hari, tetapi pada penderita Thallasaemia umur sel darah merah hanya antara 4 sampai 6 minggu.
ANEMIA
Berdasarkan jumlah sel dan kadar hemoglobin yang merupakan bagian penting dari sel erytrosit,kelainan sel darah merah (erytrosit) dibedakan menjadi anemia bila jumlah atau kadarnya rendah dan polycythemia bila jumlahnya meningkat. WHO menetapkan kriteria diagnosis anemia bila kadar hemoglobin kurang dari 12 g/dl, kadar hemoglobin ini biasanya sebanding dengan jumlah erytrosit dan hematokrit. Sebaliknya, disebut polycythemia bila kadar hemoglobin lebih dari 18,0 g/dl dan jumlah erytrosit lebih dari 5,5 juta/uL disertai dengan peningkatan sel leukosit dan platelet.

Pada sel darah putih
Neutropenia adalah jumlah neutrofil yang sangat sedikit dalam darah.
Neutrofil merupakan sistem pertahan seluler yang utama dalam tubuh untuk melawan bakteri dan jamur.Neutrofil juga membantu penyembuhan luka dan memakan sisa-sisa benda asing.Pematangan neutrofil dalam sumsum tulang memerlukan waktu selama 2 minggu.
Setelah memasuki aliran darah, neutrofil mengikuti sirkulasi selama kurang lebih 6 jam, mencari organisme penyebab infeksi dan benda asing lainnya.Jika menemukannya, neutrofil akan pindah ke dalam jaringan, menempelkan dirinya kepada benda asing tersebut dan menghasilkan bahan racun yang membunuh dan mencerna benda asing tersebut.Reaksi ini bisa merusak jaringan sehat di daerah terjadinya infeksi.Keseluruhan proses ini menghasilkan respon peradangan di daerah yang terinfeksi, yang tampak sebagai kemerahan, pembengkakan dan panas.Neutrofil biasanya merupakan 70% dari seluruh sel darah putih, sehingga penurunan jumlah sel darah putih biasanya juga berarti penurunan dalam jumlah total neutrofil.Jika jumlah neutrofil mencapai kurang dari 1.000 sel/mikroL, kemungkinan terjadinya infeksi sedikit meningkat; jika jumlahnya mencapai kurang dari 500 sel/mikroL, resiko terjadinya infeksi akan sangat meningkat.Tanpa kunci pertahan neutrofil, seseorang bisa meninggal karena infeksi.
Pada keeping darah
Kelainan-Kelainan Trombosit
Trombopati adalah kelainan/gangguan dalam proses pembekuan yang di sebabkanoleh kelainan trombosit.Kelainan trombosit dapat berupa :
 Kelainan dalam Hal Jumlah
a.Trombositopeni
Keadaan dimana jumlah trombosit dalam sirkulasi kurang dari normal. 
 Disebabkan karena pendarahan atau pengrusakan dari megakaryosit atau penghancuran trombosit.

 b. Idiopathic Thrombocytopenic Purpura
(ITP)Merupakan keadaan trombositopeni yang dijumpai, ITP ialah penyakit yang penyebabnya belum diketahui dan ditandai dengan adanya perdarahan (petechiae,acchymoses, dan lain lain) dan berkurangnya jumlah trombosit.

*      4a. Jaringan otot terdiri atas serabut-serabut otot yang tersusun oleh sel-sel otot. Serabut otot tersebut dinamakan myofibril. Sel-sel otot dibungkus oleh selaput atau membran yang disebut sarkolema. Sel-sel otot berisi suatu cairan sel yang disebut sarkoplasma. Jaringan otot terdapat pada semua anggota tubuh, baik anggota gerak maupun organ-organ dalam dan luar. Fungsi jaringan otot ini adalah sebagai alat gerak aktif. Otot memiliki kemampuan untuk berkontraksi kemudian berelaksasi sehingga dapat menggerakkan tubuh pada tempat melekatnya otot tersebut. Sel-sel otot disebut juga serabut otot. Serabut otot memiliki miofibril. Miofibril tersusun oleh protein kontraktil, aktin, dan miosin. Berdasarkan bentuk dan cara kerja selnya,
*      b. Sel – sel jaringan otot
o   Sarkolema
Sarkolema adalah membran yang melapisi suatu sel otot yang fungsinya sebagai pelindung otot
o   Sarkoplasma
Sarkoplasma adalah cairan sel otot yang fungsinya untuk tempat dimana miofibril dan miofilamen berada
o   Miofibril
Miofibril merupakan serat-serat pada otot.
o   Miofilamen
Miofilamen adalah benang-benang/filamen halus yang berasal dari miofibril.Miofibril terbagi atas 2 macam, yakni :
§  Miofilamen homogen (terdapat pada otot polos)
§  Miofilamen heterogen (terdapat pada otot jantung/otot cardiak dan pada otot rangka/otot lurik).

*      c. Mekanisme Kontraksi Otot
Dasar untuk mengetahui kontraksi otot adalah Model Pergeseran Filamen yang pertama kali dikemukakan tahun 1954 oleh Andrew Huxley dan Ralph Niederge dan oleh Hugh Huxley dan Jean Hanson. Selama kontraksi otot, setiap sarkomer memendek, menyebabkan garis Z menutup bersama. Tidak ada perubahan pada ukuran daerah A tetapi daerah I dan zona H hampir tidak terlihat. Perubahan ini diterangkan oleh filamen aktin dan myosin yang bergeser melewati satu sama lain, sehingga filamen aktin berpindah menuju daerah A dan zona H. Kontraksi otot dengan demikian akibat dari interaksi diantara filamen aktin dan myosin yang menghasilkan pergerakan yang relatif satu sama lain. Dasar molekuler untuk interaksi ini adalah ikatan myosin ke filamen aktin menyebabkan myosin berfungsi sebagai penggerak pergeseran filamen.
Tipe myosin yang terdapat pada otot (myosin II) adalah jenis protein yang besar (sekitar 500 kd) yang terdiri dari dua rantai berat yang identik dan dua pasang rantai ringan. Setiap ikatan gelap terdiri atas gugus kepala globuler dan ujung α-heliks yang panjang. Ujung α-heliks dari dua rantai berat yang kembar di sekitar satu sama lain di dalam struktur gulungan untuk membentuk dimer dan dua rantai ringan yang terhubung dengan bagian leher tiap gugus kepala untuk membentuk molekul myosin yang komplet.
Filamen tebal otot terdiri dari beberapa ribu molekul myosin yang berhubungan dalam pergiliran pararel disusun oleh interaksi diantara ujung-ujungnya. Kepala globuler myosin mengikat aktin membentuk jembatan diantara filamen tebal dan tipis. Ini penting dicatat bahwa orientasi molekul myosin pada filamen tipis berkebalikan pada garis M sarkomer. Polaritas filamen aktin sama berkebalikan pada garis M sehingga orientasi filamen aktin dan myosin adalah sama pada kedua bagian sarkomer. Aktivitas penggerak myosin memindahkan gugus kepalanya sepanjang filamen aktin pada arah ujung positif. Pergerakan ini mengegeser filamen aktin dari kedua sisi sarkomer terhadap garis M, memendekkan sarkomer dan menyebabkan kontraksi otot. Penambahan ikatan aktin, kepala myosin mengikat dan kemudian menghidrolisis ATP yang menyediakan energi untuk menggerakkan pergeseran filamen. Pengubahan energi kimia untuk pegerakan ditengahi oleh perubahan bentuk myosin akibat pengikatan ATP. Model ini secara luas diterima bahwa hidrolisis ATP mengakibatkan siklus yang berulang pada interaksi diantara kepala myosin dan aktin. Selama tiap siklus, perubahan bentuk pada myosin mengakibtkan pergerakan kepala myosin sepanjang filamen aktin.
Walaupun mekanisme molekuler masih belum sepenuhnya diketahui, model yang diterima secara luas untuk menjelaskan fungsi myosin diturunkan dari penelitian in vitro tentang pergerakan myosin di sepanjang filamen aktin (oleh James Spudich dan Michael Sheetz) dan dari determinasi struktur 3 dimensi myosin (oleh Ivan Rayment dan koleganya). Siklus dimulai dari myosin (tanpa adanya ATP) yang berikatan dengan aktin. Pengikatan ATP memisahkan kompleks myosin-aktin dan hidrolisis ATP kemudian menyebabkan perubahan bentuk di myosin. Perubahan ini mempengaruhi daerah leher myosin yang terikat pada ikatan terang yang bertindak sebagai lengan pengungkit untuk memindahkan kepala myosin sekitar 5 nm. Produk hidrolisis meninggalkan ikatan pada kepala myosin yang disebut “posisi teracung”. Kepala myosin kemudian mengikat kembali filamen aktin pada posisi baru, menyebabakan pelepasan ADP + Pi yang menggerakkannya.
Kejadian biokimiawi yang penting dalam mekanisme kontraksi dan relaksasi otot dapat digambarkan dalam 5 tahap yakni sebagai berikut :
a.    Dalam fase relaksasi pada kontraksi otot, kepala S1 myosin menghidrolisis ATP menjadi ADP dan Pi, namun kedua produk ini tetap terikat. Kompleks ADP-Pi- myosin telah mendapatkan energi dan berada dalam bentuk yang dikatakan sebagai bentuk energi tinggi.
b.    Kalau kontraksi otot distimulasi maka aktin akan dapat terjangkau dan kepala myosin akan menemukannya, mengikatnya serta membentuk kompleks aktin-myosin-ADP-Pi.
c.    Pembentukan kompleks ini meningkatkan Pi yang akan memulai cetusan kekuatan. Peristiwa ini diikuti oleh pelepasan ADP dan disertai dengan perubahan bentuk yang besar pada kepala myosin dalam sekitar hubungannya dengan bagian ekornya yang akan menarik aktin sekitar 10 nm ke arah bagian pusat sarkomer. Kejadian ini disebut cetusan kekuatan (power stroke). Myosin kini berada dalam keadaan berenergi rendah yang ditunjukkan dengan kompleks aktin-myosin.
d.   Molekul ATP yang lain terikat pada kepala S1 dengan membentuk kompleks aktin-myosin-ATP.
e.    Kompleks aktin-ATP mempunyai afinitas yang rendah terhadap aktin dan dengan demikian aktin akan dilepaskan. Tahap terakhir ini merupakan kunci dalam relaksasi dan bergantung pada pengikatan ATP dengan kompleks aktin-myosin.

Jadi, hidrolisis ATP digunakan untuk menggerakkan siklus tersebut dengan cara cetusan kekuatan yang sebenarnya berupa perubahan bentuk kepala S1 yang terjadi setelah pelepasan ADP.
Kontraksi otot rangka digerakkan oleh impuls syaraf yang merangsang pelepasan Ca2+ dari retikulum sarkoplasmik (jaringan khusus membran internal yang mirip dengan retikulum endoplasma yang menyimpan ion Ca2+ dengan konsentrasi yang tinggi). Pelepasan Ca2+ dari retikulum sarkoplasmik meningkatkan konsentrasi Ca2+ di sitosol kira-kira dari 10-7 menjadi 10-5 M. Berikut kerja retikulum sarkoplasma mengatur kadar ion Ca2+ intraselular dalam otot rangka :
Dalam sarkoplasma otot yang tengah istirahat, kontraksi ion Ca2+ adalah 10-7-10-8 mol/L. Keadaan istirahat tercapai karena ion Ca2+ dipompakan ke dalam retikulum sarkoplasma lewat kerja sistem pengangkutan aktif yang dinamakan Ca2+ ATPase yang memulai relaksasi. Retikulum sarkoplasma merupakan jalinan kantong membran yang halus. Di dalam tretikulum sarkoplasma, ion Ca2+ terikat pada protein pengikat Ca2+ yang spesifik yang disebut kalsekuestrin. Sarkomer dikelilingi oleh membran yang dapat tereksitasi (sistem tubulus T) yang tersusun dari saluran transversal (T) yang berhubungan erat dengan retikulum sarkoplasma.
Ketika membran sarkomer tereksitasi oleh impuls syaraf, sinyal yang ditimbulkan disalurkan ke dalam sistem tubulus T dan saluran pelepasan ion Ca2+ dalam retikulum sarkoplasma di sekitarnya akan membuka dengan cepat serta melepaskan ion Ca2+ ke dalam sarkoplasma dari retikulum sarkoplasma. Konsentrasi ion Ca2+ dalam sarkoplasma meningkat dengan cepat hingga 10-5 mol/L. Tempat pengikatan Ca2+ pada TpC dalam filamen tipis dengan cepat diduduki oleh Ca2+. Kompleks TpC- 4 Ca2+ berinteraksi dengan TpI dan TpT untuk mengubah interaksinya dengan tropomyosin ini. Jadi, tropomyosin ini hanya keluar dari jalannya atau mengubah bentuk F aktin sehingga kepala myosin ADP-Pi dapat berinteraksi dengan F aktin untuk mengawali siklus kontraksi.
Peningkatan konsentrasi ion Ca2+ memberi sinyal kontraksi otot melalui gerakan prekursor protein yang terikat pada filamen aktin : tropomyosin dan troponin. Tropomyosin adalah protein serabut yang terikat di sepanjang alur filamen aktin. Pada otot lurik, tiap molekul tropomyosin terikat pada troponin yang merupakan komplek 3 polipeptida: troponin C (mengikat Ca2+), troponin I (inhibitor), dan troponin T (mengikat tropomyosin). Ketika konsentrasi Ca2+ rendah, kompleks troponin dengan tropomyosin menghalangi kontraksi aktin dan myosin sehingga otot tidak berkontraksi. Pada konsentrasi ion Ca2+ tinggi, Ca2+ terikat pada troponin C menggeser posisi kompleks dengan mengganti posisi inhibisi dan mengakibatkan proses kontraksi terjadi.

Mekanisme Relaksasi Otot.
          Relaksasi terjadi kalau :   
a.    Konsentrasi Ca2+ menurun hingga di bawah 10-7 mol/L sebagai akibat dari pelepasannya kembali ke dalam retikulum sarkoplasma oleh Ca2+ ATPase.
b.    TpC- 4 Ca2+ kehilangan Ca2+
c.    Troponin lewat interaksinya dengan tropomyosin menghambat interaksi selanjutnya kepala myosin- F aktin.
d.   Dengan adanya ATP kepala myosin terlepas dari F aktin.
Dengan demikian ion Ca2+ mengendalikan kontraksi otot lewat mekanisme alosterik yang diantarai di dalam otot oleh TpC, TpI, TpT, tropomyosin dan F aktin
Kram Otot
   Ganong (1998) menguraikan bahwa rangsang berulang yang diberikan sebelum masa relaksasi akan menghasilkan penggiatan tambahan terhadap elemen kontraktil, dan tampak adanya respon berupa peningkatan kontraksi. Fenomena ini dikenal sebagai penjumlahan kontraksi. Tegangan yang terbentuk selama penjumlahan kontraksi jauh lebih besar dibandingkan dengan yang terjadi selama kontraksi kedutan otot tunggal. Dengan rangsangan berulang yang cepat, penggiatan mekanisme kontraktil terjadi berulang-ulang sebelum sampai pada masa relaksasi. Masing-masing respon tersebut bergabung menjadi satu kontraksi yang berkesinambungan yang dinamakan tetanik atau kontraksi otot yang berlebihan (kram otot). Menurut Corwin (2000) setiap pulsa kalsium berlangsung sekitar 1/20 detik dan menghsilkan apa yang disebut sebagai kedutan otot tunggal. Penjumlahan terjadi apabila kalsium dipertahankan dalam kompartemen intrasel oleh rangsangan saraf berulang pada otot. Penjumlahan berarti masing-masing kedutan menyebabkan penguatan kontraksi. Apabila stimulasi diperpanjang, maka kedutan-kedutan individual akan menyatu sampai kekuatan kontraksi maksimum. Pada titik ini, terjadi kram otot sampai dengan tetani yang ditandai oleh kontraksi mulus berkepanjangan.
Menurut Ganong (1998) satu potensial aksi tunggal menyebabkan satu kontraksi singkat yang kemudian diikuti relaksasi. Kontraksi singkat seperti ini disebut kontraksi kedutan otot. Potensial aksi dan konstraksi diplot pada skala waktu yang sama. Kontraksi timbul kira-kira 2 mdet setelah dimulainya depolarisasi membran, sebelum masa repolarisasi potensial aksi selesai. Lamanya kontraksi kedutan beragam, sesuai dengan jenis otot yang dirangsang.
*      5a. Sistem saraf terdiri atas sel-sel saraf yang disebut neuron. Neuron bergabung membentuk suatu jaringan untuk mengantarkan impuls (rangsang). Satu sel saraf tersusun dari badan sel, dendrit, dan akson.
Gambar 2. Bagian-bagian Sel Saraf
a) Badan sel
Badan sel saraf merupakan bagian yang paling besar dari sel saraf Badan sel berfungsi untuk menerima rangsangan dari dendrit dan meneruskannya ke akson. Pada badan sel saraf terdapat inti sel, sitoplasma, mitokondria, sentrosom, badan golgi, lisosom, dan badan sel.
b) Dendrit
Dendrit adalah serabut sel saraf pendek dan bercabang- cabang. Dendrit merupakan perluasan dari badan sel. Dendrit berfungsi untuk menerima dan mengantarkan rangsangan ke badan sel.
c) Akson
Akson disebut juga neurit. Neurit adalah serabut sel saraf panjang yang merupakan penjuluran sitoplasma badan sel. Benang-benang halus yang terdapat di dalam neurit disebut neurofibril. Neurofibril dibungkus oleh beberapa lapis selaput mielin yang banyak mengandung zat lemak dan berfungsi untuk mempercepat jalannya rangsangan. Pada bagian luar akson terdapat lapisan lemak disebut mielin yang merupakan kumpulan sel Schwann yang menempel pada akson. Sel Schwann adalah sel glia yang membentuk selubung lemak di seluruh serabut saraf mielin. Membran plasma sel Schwann disebut neurilemma. Fungsi mielin adalah melindungi akson dan memberi nutrisi. Bagian dari akson yang tidak terbungkus mielin disebut nodus Ranvier, yang berfungsi mempercepat penghantaran impuls.


*      b. a. Sel saraf sensorik, bekerja menerima rangsang dari luar untuk dilanjutkan ke sel saraf berikutnya. Fungsi saraf ini adalah untuk menerima rangsang dari alat indra kemudian meneruskan impuls sarat ke pusat saraf, yaitu otak atau sumsum tulang belakang. Sel saraf sensorik memiliki badan sel yang letak-nya berada di luar pusat saraf, yaitu di seluruh bagian tubuh yang dapat disentuh oleh rangsang, misalnya, di bagian kulit dan di pancaindera. Di kiri kanan sumsum tulang belakang, saraf sensorik berkumpul dalam bentuk ganglion.
b. Sel saraf motorik, bekerja menerima rangsang atau pesan dari pusat saraf (otak dan sumsum tulang belakang) dan merambatkan impulsnya ke efektor. Efektor, yaitu bagian tubuh yang melakukan kontraksi sebagai respons terhadap rangsang. Sel saraf motorik memiliki badan sel yang terletak di dalam pusat saraf. Dendritnya pendek, tetapi neuritnya panjang. Neuron motor ini berfungsi untuk meneruskan impuls dari sistem saraf pusat ke otot dan kelenjar yang akan melakukan respon tubuh. Impuls secara langsung berjalan dari neuron sensori ke neuron motor.
c. Interneuron (Neuron Asosiasi). Interneuron ini merupakan sel saraf penyusun sistem saraf pusat, fungsinya untuk meneruskan impuls saraf dari neuron sensori ke neuron motor. Struktur interneuron ini, yaitu bagian ujung dendritnya dihubungkan langsung dengan ujung akson dari sel saraf yang lain. Perhatikan gambar macam-macam sel saraf berikut.
macam-macam sel saraf
Gambar Macam-macam sel saraf
Sel saraf berdasarkan strukturnya dibedakan menjadi tiga macam yaitu, neuron unipolar, neuron bipolar, dan neuron multipolar.
1. Sel saraf unipolar yaitu neuron yang memiliki satu buah akson yang bercabang.
2. Sel saraf bipolar yaitu neuron yang memiliki satu akson dan satu dendrit.
3. Sel saraf multipolar yaitu neuron yang memiliki satu akson dan sejumlah dendrit. Perhatikan gambar bentuk dasar sel saraf berikut.
bentuk dasar sel saraf
Gambar Bentuk dasar sel saraf
*      c.         Neurotransmiter adalah senyawa organik endogenus membawa sinyal di antara neuron. Neurotransmiter terbungkus oleh vesikel sinapsis, sebelum dilepaskan bertepatan dengan datangnya potensial aksi.
Neurotransmiter adalah bahan kimia endogen yang mengirimkan sinyal dari neuron ke sel target di sinaps . Neurotransmitter yang dikemas ke dalam vesikel sinaptik berkerumun di bawah membran di sisi presynaptic sinaps, dan dilepaskan ke dalam celah sinaptik, di mana mereka mengikat pada reseptor dimembran pada sisi postsynaptic dari sinaps. Pelepasan neurotransmiter biasanya mengikuti kedatangan sebuah potensial aksi pada sinapsis, tetapi juga dapat mengikuti potensi listrik dinilai. Rendahnya tingkat ”dasar” rilis jugaterjadi tanpa stimulasi listrik. Neurotransmiter disintesis dari precursor berlimpah dan sederhana, seperti asam amino, yang tersedia dari diet dan yanghanya membutuhkan sejumlah kecil langkah biosintesis untuk mengkonversi.

Gambar.1.1 Ilustrasi yang melibatkan neurotransmitter


     Gambar diatas memperlihatkan ilustrasi dari elemen utama pada tranmisi sinapsis sebuah gelombang elektrokimiawi yang disebut potensi aksi bergerak sepanjang akson sebuah neuron. Ketika gelombang tersebut mencapai sinapsis, sejumlah molekul neurotransmitter dilepaskan dan bergerak menuju penyerap yang terletak pada membrane neuron lain yang berada di dekat sinapsis.
     Seluruh aktivitas kehidupan manusia yang berkenaan dengan otak di atur melalui tiga cara, yaitu sinyal listrik pada neuron, zat kimiawi yang di sebut neurotransmitter dan hormon yang dilepaskan ke dalam darah. Hampir seluruh aktivitas di otak memanfaatkan neurotransmitter.
            Peranannya :
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa neurotransmitter glycine berperan terhadap timbulnya latah. Neurotransmitter glycine berperan sebagai saraf  penghambat, tetapi pada situasi ini glycine tidak berfungsi dalam menghambat impuls yang ada, sehingga terjadi stimulasi dan respon berlebihan. Hal ini berakibat pada refleks tiba-tiba , yaitu latah (hyperekplexia).